Sabtu, 16 September 2017

DENDAM

oleh : Dikiyana Wahyu Pratama





                   

25 September 1887

“Tenang saja. Aku pasti akan mendapatkannya dengan tanganku sendiri. Kau tak perlu cemaskan hal ini. Kau akan lihat pada akhirnya.”

Berjalan seperti biasa. Sesuai rencana. Curiga? Tidak. Berjalan. Masih menunggu waktu yang tepat. Pelan-pelan. Jika dia sudah tak mengintai, ini akan segera kulakukan. Tak secepat itu. Belum. Ini belum selesai. Ini baru awal. Masih ada dua tiga lainnya. Lihat saja. Aku pasti akan memusnahkannya.

            Kuhentakkan kakiku perlahan memasuki  singgasananya. Mataku masih awas terhadap segala hal yang memiliki probabilitas tinggi untuk terjadi tiba-tiba. Bebatuan di setapak serasa bagai jarum yang menginjeksi bagian telapak kakiku.  Aku berusaha untuk menahannya tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Berjalan lurus dan masih mengawasi. Lancar saja. Tak ada halangan sama sekali. Apa yang terjadi? Mengapa tiba-tiba sepi tak berpenghuni? Aku mulai heran dengan ini. Jangan-jangan ini adalah jebakan. Mungkin mereka sudah tahu aku lokasiku. Tidak. Tak ada siapapun yang mengetahui keberadaanku. Aku mulai memikirkan hal-hal yang buruk. Mulai berhalusinasi. Semuanya bercampur dalam otakku.  Bodoh. Bodoh. Aku harus tetap tenang. Kulanjutkan langkahku untuk mencarinya agar bisa kubunuh dengan tanganku. Tiba-tiba saja, bulu kudukku berdiri. Entah apa yang sedang terjadi. Dan ketika aku memutar kepalaku, tiba-tiba...

***

11 Juni 1876

Kerajaan Bristons menyatakan perang terhadap Kerajaan Picts, negara kepulauan subur yang trauma terhadap adanya peperangan. Dan tujuan utama dari Kerajaan Bristons mengumpulkan kekuatan untuk memperluas daerah jajahan. Kerajaan Bristons ingin merebut kekayaan alam Kerajaan Picts, begitu halnya Kerajaan Scots yang ingin merebut hal tersebut.  Ayahku, Edberd Fowler adalah menteri di Kerajaan Bristons. Dia yang menjadi salah satu tokoh yang memprakarsai kudeta melawan Raja Axelsen karena pemerintahannya sudah otoriter dan menindas rakyat. Tentu saja ayahku sebagai menteri dan ahli strategi di kerajaan tersebut menentang adanya perang yang menumpahkan darah. Namun, Raja Axelsen tidak segan menghabisi siapapun yang menghalanginya. Siapapun tak terkecuali aku, Ariclus Fowler dan ayahku, Edberd Fowler.

Sekarang usiaku enam tahun. Seperti biasa aku hendak pergi ke kamar ayahku untuk bermain catur, tiba-tiba datang seorang prajurit kerajaan masuk ke dalam kamar ayahku. Aneh. Terdengar teriakan. Sekejap aku mulai tegang. Apa itu? Apakah ada perampokan di rumahku? Mulai melayang di pikiranku hal-hal yang negatif. Kulangkahkan kakiku perlahan. Keringat dingin keluar dari sekujur tubuhku. Kulawan rasa takutku dan kucoba untuk memaksakan kakiku yang terasa mulai membeku. Fokusku yang mulai kabur. Kucoba untuk melihat dari pintu yang sedikit terbuka. Kuberanikan nyaliku untuk melihat ke dalam kamar.

“Ayahh!!” aku berteriak dan menangis sejadinya.

Kulihat ayahku sekarat, berlumuran darah dan di depannya seorang prajurit kerajaan membawa pedang yang berlumur darah.

“Apa tujuanmu? Siapa yang menyuruhmu? Bukankah ayahku orang yang baik!” pertanyaan itu sontak saja terlontar dari mulutku.

Prajurit itu tak menjawab. Hanya mengarahkan pedang ke arahku.

“Mati! Matilah bersama ayahmu!”.

Lari, kupaksakan kakiku untuk berlari menuruni tangga walau hatiku ingin tetap di ruangan itu menemani ayahku. Bertahan hidup apapun yang terjadi. Hanya itu yang terlintas di benakku. “BRAKK” kakiku terpeleset di salah satu tangga. Setengah sadar. Samar-samar terlihat prajurit itu lagi.

“Raja Axelsen. Dialah yang menyuruhku. Keluargaku sedang disandra di kantor kerajaan. Jika aku tidak membunuh kalian maka—” jawab prajurit itu sambil mengangkat pedang.

“Arilcuss!!!” sekilas terdengar suara ibuku.

Lalu cahaya di ruangan itu meredup. Mati. Mungkin sudah saatnya.

12  Juni 1886

“Tidakk....” teriakku saat terbangun dari tidur. Kubuka mataku, kulihat cahaya matahari masuk melalui jendela. Kurasa ini sudah kesekian kali aku memimpikan kejadian itu. Aku selalu dihantui kejadian kelam tersebut.  Kucoba melihat sekelilingku, semilir angin pagi yang segar masuk ke jendela rumahku lewat jendela yang terbuka. Terdengar suara burung menyanyi  mengiringi cahaya matahari pagi yang mulai meninggi. Pagi ini usiaku genap enam belas tahun. Aku tinggal di rumah bersama pamanku. Andriel Alert. Itulah identitas yang diberikan paman kepadaku. Kebetulan pamanku adalah salah satu bangsawan dari Kerajaan Bristons. Mau tidak mau pamanku harus memenuhi semua yang diperintahkan Raja Axelsen. Orang itu memang membuatku muak.              

Tunggu, jam berapa ini? Kulihat jam dinding menunjukan pukul 07.30. Padahal sudah kupasang alarm jam enam pagi. Kali ini aku benar-benar kesiangan. Cepat-cepat kuganti pakaianku dengan seragam sekolah. Mandi? Tak perlu. Tak ada waktu untuk mandi pagi bahkan mungkin untuk sarapan pagi.

Aku bersekolah di Saber Academy. Sekolah khusus untuk anggota keluarga bangsawan Kerajaan Bristons. Tentunya teman-temanku nanti semuanya dari keluarga bangsawan. Memang sudah takdir kami untuk meneruskan jabatan orang tua kami. Setidaknya aku masih mempunyai paman berdarah bangsawan, aku mendapatkan tempat tinggal, makanan, pakaian dan sekolah gratis. Tentu ini tidak selamanya. Aku cuma membutuhkan waktu untuk mengumpulkan pasukan dan membuat strategi. Ya aku pasti bisa membalaskan dendam ayah dan ibuku.  

“Andriel kita sudah sampai di gerbang. Paman hanya antar sampai sini saja.”

“Terima kasih Paman, ini lebih dari cukup.”

“Nikmatilah hari pertamamu bersekolah! Carilah teman yang banyak!”

“Baik Paman.”

Aku duduk di bangku pojok belakang. Kukira aku yang terakhir datang ke sekolah, ternyata tidak. Seorang wanita yang kurasa pernah kulihat entah dimana.  Sambil tersenyum dia berjalan dengan anggun ke arahku. Tiba-tiba aku baru tersadar bahwa aku sedang memikirkan hal lain.

Berambut lurus agak pirang, kulit putih langsat, karismatik, elegan, tenang, dan ramah. Semua itu sudah cukup untuk merepresentasikan seorang yang bisa membuat orang-orang terpesona. Kulihat nama di seragam sekolahnya. Tertulis dengan jelas “SHERLY”. Itukah namanya? Seketika itu pula fokusku mulai tak aman lagi. Entah mengapa aku yang biasanya suka memulai pembicaraan kini seakan bingung untuk memilih kalimat yang pas untuk berkenalan. Kulihat teman-teman yang lain juga canggung untuk berdialog dengan yang lainnya, semuanya seakan membisu. Syukurlah bukan cuma aku yang canggung. Tiba-tiba seorang pria berbadan tinggi dan agak kekar masuk ke dalam kelas. Terlihat senyum di wajahnya. Itukah yang akan menjadi guruku?

4 Agustus 1887

Master of strategy begitulah kata yang muncul di kepala setiap orang yang melihatku.  Dibesarkan di keluarga kerajaan, dilatih bertarung, tapi aku lebih suka menghancurkan musuh dengan taktik yang jitu dan efisien tanpa menguras  tenaga. Di sekolah pun aku tidak jarang tidur saat pelajaran karena merasa bosan dengan pelajaran tersebut tapi aku selalu mendapatkan nilai rata-rata. Ya, aku tidak mau mencolok dan menjadi pusat perhatian karena kecerdasanku. Tentu hal ini membuatku dikenal banyak orang. Semakin banyak orang yang mengenalku, semakin mudah mereka mengetahui aku yang sebenarnya. Mungkin mereka tak mengenalku hingga terlalu dekat. Pasti ada saatnya mereka akan tahu segalanya.

" Hahaha... waktumu untuk menyelesaikan permainan catur ini tinggal lima belas menit, sekarang posisimu sedang terdesak dan kau cuma punya kuda dan benteng yang bisa melindungi rajamu dari kematian"

"Aku hanya perlu mengulur waktu untuk menunggu kedatangan penggantiku, Andriel yang akan mengalahkanmu."

"Hahaha... jangan kau buat aku semakin tertawa, dalam kondisi seperti ini aku pasti menang, bahkan si Andriel itu tidak mampu mengalahkanku  dengan waktu yang tersisa."

“Itu dia penyelamat kita.

Aku memasuki ruangan itu dengan penuh percaya diri. Semua mata tertuju padaku. Pertandingan ini dihadiri oleh pejabat kerajaan dan masyarakat jelata yang selalu tertindas.  Dalam pertandingan ini aku tak boleh kalah. Kemenangan adalah harga mati bagiku.  Lawanku adalah Gubernur Calvin dan pertadingan ini mempertaruhkan daerah yang akan dijajah oleh Kerajaan Bristons. Hal ini memang sering terjadi, adu otak memainkan catur dengan pertaruhan daerah kekuasaan. Aku pun mulai duduk dan sekilas melihat ke arah meja catur. Memang posisiku  sangat terdesak. Akan tetapi dalam beberapa detik sudah terpikir sekitar lima belas langkah yang harus aku lakukan dan sekitar dua puluh macam pergerakan dari musuh yang sudah bisa aku prediksi.

“ Hahaha... bersiaplah untuk malu di depan para pejabat pemerintahan Calvin!”

“Kau cuma bocah yang tak tahu diri, waktumu cuma lima belas  menit sebelum masuk ke liang lahat!”

“Tak perlu waktu lama bagiku untuk mengalahkan orang sepertimu. Dalam sembilan menit sudah kupastikan kau tak akan bisa berbuat apa-apa kecuali angkat kaki dari daerah ini.”

Gubernur Calvin memulai langkahnya dengan menggerakan kuda tepat di depan rajanya, sudah kuduga dia pasti akan berhati-hati dan menutup semua jalan agar aku tak dapat melakukan serangan. Lalu kumulai langkahku dengan menggerakan rajaku untuk berpindah ke samping.

Raja sendiri harus bergerak agar rakyatnya mengikutinya!”

“Aku penarasan dengan langkahmu selanjutnya, tapi apapun itu tak akan berpengaruh kepadaku.”

Tak kusangka dia melangkah lebih bodoh dari yang kukira. Hanya kupancing sedikit dan kuberi umpan hanya sebuah pion dia sudah masuk ke perangkapku. Tak lama kemudian aku melakukan checkmate padanya. Dan pertarungan ini pun berakhir. Akhirnya Gubernur Calvin beserta anak buahnya menyingkir dari daerah Kerajaan Picts  yang dihuni oleh rakyat jelata yang selalu ditindas oleh Kerajaan Bristons. Sekarang waktuku untuk mengajak pemimpin mereka, rakyat yang tertindas untuk berpihak kepadaku. Aku masih memerlukan pasukan.

“Harga diri Kalian selalu direndahkan! Kalian selalu dimanfaatkan! Apakah Kalian terima akan perlakuan Raja Axelsen?”

“Hai siapa kamu sebenarnya? Kami berterimakasih padamu tapi kamu cuma siswa biasa!”

“Aku adalah Andriel. Seorang siswa pemimpin kudeta rakyat jelata Kerajaan Bristons.”

“Tidak mungkin! Aku sudah mendengar rumor yang beredar tentang Andriel sang pemimpin kudeta yang memiliki julukan master of strategy. Orang yang membenci kediktaktoran Raja Axelsen dan membela rakyat tertindas. Tapi tak kusangka dia masih seorang siswa!”

“Aku memberikan pilihan kepada kalian. Apakah kalian akan tetap hidup seperti ini dan selalu dihantui rasa takut atau kalian membantuku untuk membela kebenaran dan membunuh Raja Axelsen? Bukankah sudah kutunjukan kepiawaianku dalam membuat taktik pertarungan dalam pertandingan catur tadi.”

Huhhh.. Baiklah. Kurasa kami tak memunyai pilihan kecuali menghancurkan kediktaktoran Raja Axelsen.”

            Ya, untuk membalaskan dendamku aku harus memunyai pasukan yang kupimpin sendiri. Jika hanya segelintir pasukan kudeta dari Kerajaan Bristons tentu seranganku akan mudah dipatahkan tapi sekarang setengah dari Kerajaan Picts sudah mendukung aksiku. Ini masih belum cukup. Pasukan besar harus memiliki pemimpin yang  memiliki taktik bertarung jitu. Dengan kemampuanku, dukungan dari pamanku, dan dari daerah yang sudah menjadi kekuasaanku pasti aku bisa memberi hukuman kepada Raja Axelsen. Sekarang saatnya aku pulang dan beristirahat. Apalagi besok ada ujian praktik bertarung di sekolah.

“Andri! Andri! Bangun Andriel! Sebentar lagi ujian praktik kita dimulai. Mau sampai kapan Kamu tidur?” tanya Sherly setengah memarahi.

Emmemm.. Nanti saja Sherly. Lima menit lagi.” jawabku sambil mencoba membuka mata.

“Andriiii!”

“Aku sekarang kecapekan. Kemarin aku bertarung dengan Gubernur Calvin di meja catur.”

“Apa???”

Emm. Tidak-tidak.. tadi aku mengigau Sherly. Aku memimpikan bertarung dengan Gubernur Calvin. ”

“Cepat bersiap-siap! Andri memang Kau pandai dalam ujian membuat strategi bertempur. Tapi untuk setiap kali ujian paraktik Kau selalu mengulang karena nilai skill bertarungmu yang rendah.”

“Iya-iya aku sadari sepenuhnya kekuranganku. Sekarang aku akan pergi ke ruang ganti untuk ganti seragam olahraga.”

            Memang kalau dalam skill bertarung aku kalah telak darinya. Sherly yang aku kira cuma gadis anggun yang pendiam ternyata memiliki bakat untuk bertarung dalam medan pertempuran. Dia selalu mendapat nilai tertinggi dalam hal ujian praktik. Hampir seluruh jenis alat dalam berperang Sherly dapat menggunakannya, tapi dia paling suka menggunakan senapan. Beberapa kali aku terpikir bahwa aku dan Sherly diciptakan untuk berpasangan. Aku sebagai otak serangan dan Sherly sebagai tangan kananku. Sempat terpikir untuk mengajak Sherly bergabung dengan pasukanku. Setidaknya itu yang aku pikirkan.

            Tiba-tiba sebelum ujian dimulai kepala sekolah yang tampak  kebingungan dicampur sedikit memaksakan senyuman mencoba mencari Sherly. Aneh. Apalagi hanya beberapa saat sebelum ujian praktik dimulai. Sungguh aneh. Kecurigaanku bertambah ketika Sherly menangis setelah bertemu dengan kepala sekolah. Sontak dia langsung berlari belakang sekolah. Yang kutahu pasti dia  ingin menenangkan diri jika ke sana. Spontan aku mengejarnya. Akhirnya aku berhasil menemukannya. Aku terdiam begitu juga dengan Sherly. Lama kami membisu menunggu salah satu diantara kami berkata. Perlahan Sherly mendekatiku. Sangat dekat. Lalu Sherly mendekapku tanpa suara. Perlahan terdengar suara tangis yang aku tahu sedari tadi dia tahan. Kubisa memahami begitu sedihnya Sherly saat ini.

“Sherr... ada apa?” pelan aku berkata.

“Papa!! Raja Axelsen memberikan hukuman mati kepada papaku. Sebagai bentuk peringatan agar tidak menentang Raja Axelsen.” jawab Sherly sambil menangis sejadinya.

Terdiam kembali. Mungkin apapun yang aku katakan akan percuma. Setelah kehilangan ibunya ketika berusia empat tahun, sekarang dia harus kehilangan papanya. Kekejaman Raja Axelsen sudah tidak bisa  dimaafkan. Untuk kesekian kalinya aku bersumpah untuk melenyapkan Raja Axelsen beserta kediktaktorannya. Secepatnya harus kulaksanakan aksiku.

“Ikutlah bersama pasukanku! Bersama kita menghancurkan Raja Axelsen dan menghentikan korban berjatuhan lagi. Bisa jadi orang yang kita sayangi akan menghilang lagi.” ajakku kepada Sherly.

Mungkin dengan mengajak Sherly ke medan pertempuran akan membahayakan nyawanya. Orang yang aku sayangi. Tapi aku tidak bisa membiarkan Sherly cuma menangis meratapi nasibnya.

25 September 1887

            Kali ini aku akan penjadi komandan dan otak serangan. Butuh waktu sekitar satu hari untuk memelajari peta tata letak Kerajaan Bristons. Kalkulasi, perencanaan, strategi, kekuatan pertahanan, formasi, manuver dan mobilitas sudah kupersiapkan untuk menyerang. Tidak ada yang terlewatkan sedikitpun. Setidaknya ini sudah kupikirkan matang-matang. Untuk berjaga-jaga telah kusiapkan rencana cadangan untuk memastikan kemenanganku. Tapi masih ada kebimbangan. Apakah hal yang aku lakukan benar? Bukankah membunuh adalah hal yang keji? Tidak. Aku sudah memutuskannya. Akan kukotori tanganku untuk menghentikan kediktatoran ini. Sudah kuputuskan serangan akan kulaksanakan dua jam lagi. Aku takut strategiku akan dipatahkan. Tidak. Aku tidak boleh gagal.

            Seperti biasa istana kerajaan akan menjadi pusat kekuatan musuh. Aku membagi pasukan Kerajaan Pict menjadi tiga bagian. Pasukan pertama akan langsung menyerang Krajaan Bristons bagian utara. Pasukan kedua akan menyerang  lewat jalur laut di bagian Kerajaan Bristons bagian selatan. Pasukan terakhir akan berjaga-jaga di daerah perbatasan Kerajaan Scots.

“Cek-cek komandan semua pasukan siap di posisi!”

“Mulai beroperasi! Hancurkan semua musuh yang ada di depan kalian!”

Penyerangan  dua sisi akan membagi kekuatan militer musuh menjadi dua. Kemudian pasukan ketiga untuk mengantisipasi bantuan dari Kerajaan Scots. Sejauh ini sesuai prediksiku. Tapi aku masih  menganalisa pergerakan musuh.

“Komandan pasukan musuh terpusat di sisi utara dan selatan.”

“Baik. Hati-hati! Jangan anggap remeh para prajurit Kerajaan Bristons.”

“Disini pemimpin pasukan satu berhasil menembus pertahanan lawan.”

“Disini pemimimpin pasukan dua. Kami tidak bisa  bertahan lagi! Ada—”

“Ada apa! Kenapa komunikasimu terputus!”

“Ini pasukan dua. Pemimpin kami telah terbunuh. Kami mengonfirmasi jumlah musuh meningkat dengan pesat!”

Kukira pasukan bantuan musuh akan tiba satu jam lagi. Terlalu cepat. Apakah taktikku terbaca oleh musuh? Mereka tidak mungkin bisa bertahan. Apakah harus kuperintahkan mereka untuk mundur? Tidak. Aku sudah sampai sejauh ini dan operasi kali ini tidak boleh gagal. Mau tidak mau harus kukorbankan pasukanku.

 “Komandan! Jumlah musuh terlalu banyak. Haruskah kami mundur?”

“Tidak. Kalian harus menjaga formasi kalian. Maafkan aku. Aku harus mengorbankan beberapa pasukanku.”

“Tidak. Komandan tidak perlu meminta maaf. Yang utama dari operasi ini adalah kemenangan.”

“Komandan di sini pasukan satu. Kami telah masuk lima ratus meter ke dalam pertahanan lawan. Tapi muncul lawan baru dan mereka memakai atribute prajurit Kerajaan Scots.”

“Apa!! Tidak mungkin!”

Jika pasukukan Kerajaan Scots datang membantu harus melewati rute yang telah kuprediksikan. Dimana sebagian pasukanku sudah bersiap untuk menghadang. Atau dari awal strategiku sudah terbaca. Pasukan Scots dari awal pertempuran sudah ada di area Kerajaan Bristons. Sial. Kenapa ini bisa terjadi. BODOH. Dalam keadaan seperti ini aku harus mengeluarkan rencana cadangan. 

“Pasukan bayangan apa kalian bisa mendengarku? Disini komandan.”

“Kami siap di posisi sedang mengintai musuh. Kami sudah membagi pasukan di area Bristons bagian utara dan selatan.”

“Bagus. Ini adalah kemenangan kita. Mulai operasi bayangan!!”

Dengan datangnya pasukan bantuan musuh dengan cepat, berarti ini adalah kemenanganku. Selain memiliki pasukan dari Scots aku juga memunyai dukungan dari pasukan musuh. Ya. Aku menempatkan pasukan Bristons yang menentang Raja Axelsen tepat di belakang pasukan bantuan musuh. Dengan ini kami mengepung pasukan musuh dari dua sisi. Kemudian pertahanan daerah istana akan melemah dan bantuan tidak akan sampai tepat waktu.

“Pasukan bayangan laporkan kondisimu!”

“Sesuai yang komandan perintahkan. Kami menyerang musuh dari belakang.”

“Bagus tetap jaga formasimu. Musuh akan kebingungan.”

“Komandan memang hebat, wajar orang-orang menyebut Anda master of strategy. Tapi kami tidak bisa bertahan lama. Pasukan musuh terlalu kuat.”

“Kalian cuma harus mengulur waktu. Sisanya aku dan Sherly yang akan menyelesaikan. Tetap analisa keadaan!”

Siapa sangka kalau komandan pasukan memberi komando dari pusat pertahanan musuh. Ya, sejak awal aku dan Sherly berada di istana Raja Axelsen. Masih menganalisa. Seperti dugaan pertahanan melemah sampai lima puluh persen. Dengan ini aku sudah melakukan checkmate pada musuh. Apalagi ada Sherly di sampingku. Aku tidak mungkin kalah.

“Sherly kau siap? Jatuhkan musuh di depan istana dengan senapanmu.

“Kapanpun aku siap Andri!”

Tak ada satu pun tembakan dari Sherly yang meleset. Setelah melumpuhkan penjaga kami mulai menyusuri singgasananya. Terlalu sepi. Tak berpenghuni. Apakah ini jebakan? Atau mungkin mereka sudah tahu aku akan ke sini. Tidak. Tak ada siapapun yang mengetahui keberadaanku. Tiba-tiba saja, bulu kudukku berdiri. Entah apa yang sedang terjadi. Dan ketika aku memutar kepalaku, tiba-tiba Raja Axelsen berdiri di belakangku bersiap menembakku dengan pistol. Bodoh. Kenapa aku bisa seceroboh ini? Sungguh ceroboh. Apa aku akan mati sia-sia? Apakah pengorbanan pasukanku akan sia-sia? Tapi tiba-tiba Sherly menggunakan tubuhnya sebagai perisai dan mendekapku. Apa yang terjadi? Dia seharusnya tetap mengikuti perintahku berjaga di pintu.

“Sherly!! Sherly!! Jangan tutup matamu! Tetaplah bersamaku! Tak seharusnya Kau menjadi korban!”

“Tidak Andri. Kau tidak boleh mati. Bagaimanapun juga Kau adalah komandan.   Gunakan senapanku dan bunuh Raja Axelsen.”

Perlahan detak jantung Sherly mulai melemah. Hangat tubuhnya  yang mendekapku mulai menghilang. Dingin. Suaranya sudah tak terdengar lagi. Terdiam. Sejenak aku terdiam dan mencoba mencerna apa yang sedang terjadi. Ini adalah kenyataan. Sherly sudah mati. Sedangkan  Raja Axelsen sedang tertawa di depanku dengan pistol di tangannya. Sudah waktunya. Tak kan ku tahan diriku lagi. Kemudian aku berdiri dan memegang senapan yang diberikan sherly.

“Menyedihkan!! Hahaha... sungguh menyedihkan! Kau mati menyusul ayahmu. Sama seperti ayahmu, tak berguna!”

       “Selamat Raja Axelsen! Kau telah membuatku sangat marah!!”

Seketika Raja Axelsen bertubi-tubi melepaskan tembakan ke arahku. Spontan aku mulai menghindar dari tembakan itu. Seakan aku bisa memprediksi arah peluru yang dia tembakkan. Satu dua peluru mendarat di pahaku. Belum. Aku belum tumbang. Aku masih bisa bergerak. Dalam kondisi ini aku tidak boleh gegabah. Tetap waspada. Kugunakan seluruh tubuhku untuk bertarung.

“Monster! Siapa kau ini sebenarnya??” teriak Raja Axelsen.

“Apapun kan ku lakukan untuk membunuhmu. Menjadi monster aku tidak peduli. Selagi aku melindungi orang yang aku sayangi!” jawabku tanpa ekspresi.

Sekejap aku berada di depan Raja Axelsen. Kutembak kedua kakinya untuk melumpuhkannya. Seketika tumbang. Kemudian tanpa ragu kutembak lengannya. Berkali-kali tanpa kasihan. Sudah kuputuskan untuk mengotori tanganku sendiri. Kemudian kuarahkan senapanku ke arah kepalanya.

“Identitasku yang sebenarnya adalah Ariclus Fowler? Apa kau tidak ingat?”

“Ariclus Fowler? Siapa Kau? Tunggu dulu. Fowler!!”

“Ya. Aku adalah anak dari Edberd Fowler. Salah satu menteri dan ahli strategi terhebat yang Kau hianati. Ariclus Fowler siap melayanimu. Atau lebih tepatnya melenyapkanmu!”

“Ariclus?! Tapi aku pikir—”                                                     

“Kalau aku sudah mati? Kau membunuh kedua orang tuaku tapi aku berhasil lolos. Setelah kejadian itu, aku mengganti identitasku.”

***

Aku mulai menarik udara masuk dan keluar paru-paruku. Aku tak tahu mengapa. Jantungku tiba-tiba saja berdetak lebih kencang. Keringatku sudah jatuh dan membasahi semua tempat di sekitarku. Aku tak tahu apa yang sudah terjadi. Aku merasa hanya mengalir. Semua terjadi begitu cepat di bawah gelombang delta yang menghantuiku. Tegang. Aku seperti ditarik kembali dengan portal time machine. Catur. Tembakan. Gadis. Raja. Academy. Strategi. Semuanya musnah saat aku membuka mata. Ya. Semua itu hanya imajinasi belaka yang muncul dalam alam bawah sadarku. Mimpi. Semua berlalu begitu saja dan HILANG.




 
















Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kewengangan Wakil Rakyat Dipangkas "Lagi"?

           MK memangkas kewengangan dpr terutama pada bagian-bagian yang memiliki potensi korupsi tinggi. Sebab, banyak kasus korupsi yan...