25 September 1887
“Tenang saja.
Aku pasti akan mendapatkannya dengan tanganku sendiri.
Kau tak perlu cemaskan hal ini.
Kau akan lihat pada akhirnya.”
Berjalan seperti biasa.
Sesuai rencana. Curiga? Tidak.
Berjalan. Masih menunggu waktu
yang tepat. Pelan-pelan. Jika dia sudah tak mengintai,
ini akan segera kulakukan.
Tak secepat itu.
Belum. Ini belum selesai.
Ini baru awal.
Masih ada dua tiga lainnya. Lihat saja.
Aku pasti akan memusnahkannya.
Kuhentakkan kakiku perlahan memasuki singgasananya. Mataku masih awas terhadap segala hal
yang memiliki probabilitas tinggi untuk terjadi tiba-tiba.
Bebatuan di setapak serasa bagai jarum
yang menginjeksi bagian telapak kakiku. Aku berusaha untuk menahannya tanpa mengeluarkan suara sedikit
pun. Berjalan lurus dan masih mengawasi.
Lancar saja.
Tak ada halangan sama sekali.
Apa yang terjadi? Mengapa tiba-tiba sepi tak berpenghuni?
Aku mulai heran dengan ini.
Jangan-jangan ini adalah jebakan.
Mungkin mereka sudah tahu aku lokasiku.
Tidak. Tak ada siapapun
yang mengetahui keberadaanku.
Aku mulai memikirkan hal-hal
yang buruk. Mulai berhalusinasi.
Semuanya bercampur dalam otakku.
Bodoh. Bodoh. Aku harus tetap tenang.
Kulanjutkan langkahku untuk mencarinya
agar bisa kubunuh dengan tanganku. Tiba-tiba saja, bulu kudukku berdiri.
Entah apa
yang sedang terjadi.
Dan ketika aku memutar kepalaku,
tiba-tiba...
***
11 Juni 1876
Kerajaan Bristons
menyatakan perang terhadap Kerajaan Picts, negara kepulauan
subur yang trauma terhadap adanya peperangan. Dan tujuan utama dari Kerajaan Bristons
mengumpulkan kekuatan untuk memperluas daerah jajahan. Kerajaan Bristons
ingin merebut kekayaan alam Kerajaan Picts, begitu halnya
Kerajaan Scots yang ingin merebut hal tersebut. Ayahku, Edberd Fowler adalah menteri
di Kerajaan Bristons. Dia yang menjadi salah satu tokoh yang memprakarsai
kudeta melawan Raja Axelsen karena pemerintahannya sudah
otoriter dan menindas rakyat. Tentu saja ayahku sebagai menteri dan ahli strategi di kerajaan tersebut menentang adanya
perang yang menumpahkan darah. Namun, Raja Axelsen
tidak segan menghabisi siapapun yang menghalanginya. Siapapun tak terkecuali aku, Ariclus Fowler dan ayahku, Edberd Fowler.
Sekarang usiaku enam tahun. Seperti biasa aku hendak pergi ke kamar ayahku
untuk bermain catur, tiba-tiba datang seorang prajurit kerajaan masuk ke dalam
kamar ayahku. Aneh. Terdengar teriakan. Sekejap aku mulai tegang. Apa itu? Apakah ada perampokan di rumahku? Mulai
melayang di pikiranku hal-hal yang negatif. Kulangkahkan kakiku perlahan. Keringat
dingin keluar dari sekujur tubuhku. Kulawan rasa takutku dan kucoba untuk
memaksakan kakiku yang terasa mulai membeku. Fokusku yang mulai kabur. Kucoba
untuk melihat dari pintu yang sedikit terbuka. Kuberanikan nyaliku untuk
melihat ke dalam kamar.
“Ayahh!!” aku berteriak dan menangis sejadinya.
Kulihat ayahku sekarat, berlumuran darah dan di depannya seorang prajurit
kerajaan membawa pedang yang berlumur darah.
“Apa tujuanmu? Siapa yang menyuruhmu? Bukankah ayahku orang yang baik!”
pertanyaan
itu sontak saja terlontar dari mulutku.
Prajurit itu tak menjawab. Hanya mengarahkan pedang ke arahku.
“Mati! Matilah bersama ayahmu!”.
Lari, kupaksakan kakiku untuk berlari menuruni tangga walau hatiku ingin
tetap di ruangan itu menemani ayahku. Bertahan hidup apapun yang terjadi. Hanya
itu yang terlintas di benakku. “BRAKK” kakiku terpeleset di salah satu tangga.
Setengah sadar. Samar-samar terlihat prajurit itu lagi.
“Raja Axelsen. Dialah yang menyuruhku. Keluargaku sedang disandra di kantor
kerajaan. Jika aku tidak membunuh kalian maka—” jawab prajurit itu sambil
mengangkat pedang.
“Arilcuss!!!” sekilas terdengar suara ibuku.
Lalu cahaya di ruangan itu meredup. Mati. Mungkin sudah saatnya.
12 Juni 1886
“Tidakk....” teriakku saat terbangun dari tidur. Kubuka mataku, kulihat cahaya
matahari masuk melalui jendela. Kurasa ini sudah kesekian kali aku memimpikan
kejadian itu. Aku selalu dihantui kejadian kelam tersebut. Kucoba melihat sekelilingku, semilir angin
pagi yang segar masuk ke jendela rumahku lewat jendela yang terbuka. Terdengar
suara burung menyanyi mengiringi cahaya
matahari pagi yang mulai meninggi. Pagi ini usiaku genap enam belas tahun. Aku tinggal
di rumah
bersama pamanku. Andriel Alert.
Itulah identitas yang diberikan paman kepadaku. Kebetulan pamanku adalah salah satu bangsawan dari Kerajaan Bristons.
Mau tidak mau pamanku harus memenuhi semua yang diperintahkan Raja Axelsen.
Orang itu memang membuatku muak.
Tunggu, jam berapa ini? Kulihat jam dinding menunjukan pukul 07.30. Padahal sudah
kupasang alarm jam enam pagi. Kali ini aku
benar-benar kesiangan. Cepat-cepat kuganti pakaianku dengan
seragam sekolah. Mandi? Tak perlu. Tak ada waktu untuk mandi pagi bahkan
mungkin untuk sarapan pagi.
Aku bersekolah di Saber Academy.
Sekolah khusus untuk anggota keluarga bangsawan Kerajaan Bristons. Tentunya teman-temanku
nanti semuanya dari keluarga bangsawan. Memang sudah takdir kami untuk
meneruskan jabatan orang tua kami. Setidaknya aku masih mempunyai paman
berdarah bangsawan, aku mendapatkan tempat tinggal, makanan, pakaian dan
sekolah gratis. Tentu ini tidak selamanya. Aku cuma membutuhkan waktu untuk
mengumpulkan pasukan dan membuat strategi. Ya aku pasti bisa membalaskan dendam
ayah dan ibuku.
“Andriel kita sudah sampai di gerbang. Paman hanya antar
sampai sini saja.”
“Terima kasih Paman, ini lebih dari cukup.”
“Nikmatilah hari pertamamu bersekolah! Carilah teman yang
banyak!”
“Baik Paman.”
Aku duduk di bangku pojok belakang. Kukira aku yang terakhir datang ke
sekolah, ternyata tidak. Seorang wanita yang kurasa pernah kulihat entah
dimana.
Sambil tersenyum dia berjalan dengan anggun ke arahku. Tiba-tiba aku baru tersadar bahwa aku sedang memikirkan hal
lain.
Berambut lurus agak pirang, kulit putih langsat, karismatik,
elegan,
tenang, dan
ramah.
Semua itu sudah cukup untuk merepresentasikan seorang yang bisa membuat orang-orang terpesona. Kulihat nama di seragam sekolahnya.
Tertulis dengan jelas “SHERLY”. Itukah namanya? Seketika itu
pula fokusku mulai tak aman lagi. Entah mengapa aku yang biasanya suka memulai pembicaraan kini seakan
bingung untuk memilih kalimat yang pas untuk berkenalan. Kulihat teman-teman
yang lain juga canggung untuk berdialog dengan yang lainnya, semuanya seakan
membisu. Syukurlah bukan cuma aku yang canggung. Tiba-tiba seorang pria
berbadan tinggi dan agak kekar masuk ke dalam kelas. Terlihat senyum di
wajahnya. Itukah yang akan menjadi guruku?
4 Agustus 1887
Master of strategy begitulah kata yang muncul di
kepala setiap orang yang melihatku. Dibesarkan di keluarga kerajaan,
dilatih bertarung, tapi aku lebih suka menghancurkan musuh dengan taktik yang
jitu dan efisien tanpa menguras tenaga.
Di sekolah pun
aku tidak jarang tidur saat pelajaran karena merasa bosan dengan pelajaran
tersebut tapi aku selalu mendapatkan nilai rata-rata. Ya, aku
tidak mau mencolok dan menjadi pusat perhatian karena kecerdasanku. Tentu hal ini membuatku dikenal banyak orang. Semakin banyak orang yang
mengenalku, semakin mudah mereka mengetahui aku yang sebenarnya. Mungkin mereka tak mengenalku hingga terlalu dekat. Pasti ada saatnya
mereka akan tahu segalanya.
" Hahaha...
waktumu untuk menyelesaikan permainan catur ini tinggal lima belas
menit, sekarang posisimu sedang terdesak dan kau cuma punya kuda dan benteng
yang bisa melindungi rajamu dari kematian"
"Aku hanya
perlu mengulur waktu untuk menunggu kedatangan penggantiku, Andriel
yang akan mengalahkanmu."
"Hahaha...
jangan kau buat aku semakin tertawa, dalam kondisi seperti ini aku pasti
menang, bahkan si Andriel itu tidak mampu
mengalahkanku dengan waktu yang
tersisa."
“Itu
dia penyelamat kita.”
Aku memasuki
ruangan itu dengan penuh percaya diri. Semua mata tertuju padaku. Pertandingan
ini dihadiri oleh pejabat kerajaan dan masyarakat jelata yang selalu
tertindas. Dalam pertandingan ini aku
tak boleh kalah. Kemenangan adalah harga mati bagiku. Lawanku adalah Gubernur Calvin dan
pertadingan ini mempertaruhkan daerah yang akan dijajah oleh Kerajaan Bristons.
Hal ini memang sering terjadi, adu otak memainkan catur dengan pertaruhan
daerah kekuasaan. Aku pun
mulai duduk dan sekilas melihat ke arah meja catur. Memang posisiku sangat terdesak. Akan tetapi dalam beberapa
detik sudah terpikir sekitar lima belas langkah yang harus aku lakukan dan
sekitar dua puluh macam pergerakan dari musuh yang sudah bisa
aku prediksi.
“ Hahaha...
bersiaplah untuk malu di depan para pejabat pemerintahan Calvin!”
“Kau cuma bocah
yang tak tahu diri, waktumu cuma lima belas menit sebelum masuk
ke liang lahat!”
“Tak perlu waktu lama
bagiku untuk mengalahkan orang sepertimu. Dalam sembilan menit sudah kupastikan
kau tak akan bisa berbuat apa-apa kecuali angkat kaki dari daerah ini.”
Gubernur Calvin
memulai langkahnya dengan menggerakan kuda tepat di depan rajanya, sudah kuduga
dia pasti akan berhati-hati dan menutup semua jalan agar aku tak dapat
melakukan serangan. Lalu kumulai langkahku dengan menggerakan rajaku untuk
berpindah ke samping.
“Raja sendiri harus bergerak agar rakyatnya mengikutinya!”
“Aku penarasan
dengan langkahmu selanjutnya, tapi apapun itu tak akan berpengaruh kepadaku.”
Tak kusangka dia
melangkah lebih bodoh dari yang kukira. Hanya kupancing sedikit dan kuberi
umpan
hanya sebuah pion dia sudah masuk ke perangkapku. Tak lama kemudian aku
melakukan checkmate padanya. Dan
pertarungan ini pun
berakhir. Akhirnya Gubernur Calvin beserta anak buahnya menyingkir
dari daerah Kerajaan Picts yang dihuni
oleh rakyat jelata yang selalu ditindas oleh Kerajaan Bristons. Sekarang
waktuku untuk mengajak pemimpin mereka, rakyat yang tertindas untuk berpihak
kepadaku. Aku masih memerlukan pasukan.
“Harga diri Kalian selalu direndahkan! Kalian selalu dimanfaatkan! Apakah Kalian
terima akan perlakuan Raja Axelsen?”
“Hai siapa kamu sebenarnya? Kami berterimakasih padamu tapi kamu cuma siswa
biasa!”
“Aku adalah Andriel. Seorang siswa pemimpin kudeta rakyat jelata Kerajaan Bristons.”
“Tidak mungkin! Aku sudah mendengar rumor yang beredar tentang Andriel sang
pemimpin kudeta yang memiliki julukan master
of strategy. Orang yang membenci kediktaktoran Raja Axelsen dan membela
rakyat tertindas. Tapi tak kusangka dia masih seorang siswa!”
“Aku memberikan pilihan kepada kalian. Apakah kalian akan tetap hidup
seperti ini dan selalu dihantui rasa takut atau kalian membantuku untuk membela
kebenaran dan membunuh Raja Axelsen? Bukankah sudah kutunjukan kepiawaianku
dalam membuat taktik pertarungan dalam pertandingan catur tadi.”
“Huhhh.. Baiklah. Kurasa kami tak
memunyai pilihan kecuali menghancurkan kediktaktoran Raja Axelsen.”
Ya, untuk membalaskan
dendamku aku harus memunyai pasukan yang kupimpin sendiri. Jika hanya
segelintir pasukan kudeta dari Kerajaan Bristons tentu seranganku akan mudah
dipatahkan tapi sekarang setengah dari Kerajaan Picts sudah mendukung aksiku.
Ini masih belum cukup. Pasukan besar harus memiliki pemimpin yang memiliki taktik bertarung jitu. Dengan
kemampuanku, dukungan dari pamanku, dan dari daerah yang sudah menjadi
kekuasaanku pasti aku bisa memberi hukuman kepada Raja Axelsen. Sekarang
saatnya aku pulang dan beristirahat. Apalagi besok ada ujian praktik bertarung
di sekolah.
“Andri! Andri! Bangun Andriel! Sebentar lagi ujian praktik kita dimulai. Mau
sampai kapan Kamu tidur?” tanya Sherly setengah memarahi.
“Emmemm.. Nanti saja Sherly. Lima
menit lagi.” jawabku sambil mencoba membuka mata.
“Andriiii!”
“Aku sekarang kecapekan. Kemarin aku bertarung dengan Gubernur Calvin di
meja catur.”
“Apa???”
“Emm. Tidak-tidak.. tadi aku
mengigau Sherly. Aku memimpikan bertarung dengan Gubernur Calvin. ”
“Cepat bersiap-siap! Andri memang Kau pandai dalam ujian membuat strategi
bertempur. Tapi untuk setiap kali ujian paraktik Kau selalu mengulang karena
nilai skill bertarungmu yang rendah.”
“Iya-iya aku sadari sepenuhnya kekuranganku. Sekarang aku akan pergi ke ruang
ganti untuk ganti seragam olahraga.”
Memang kalau dalam skill bertarung aku kalah telak darinya.
Sherly yang aku kira cuma gadis anggun yang pendiam ternyata memiliki bakat
untuk bertarung dalam medan pertempuran. Dia selalu mendapat nilai tertinggi dalam
hal ujian praktik. Hampir seluruh jenis alat dalam berperang Sherly dapat
menggunakannya, tapi dia paling suka menggunakan senapan. Beberapa kali aku
terpikir bahwa aku dan Sherly diciptakan untuk berpasangan. Aku sebagai otak
serangan dan Sherly sebagai tangan kananku. Sempat terpikir untuk mengajak
Sherly bergabung dengan pasukanku. Setidaknya itu yang aku pikirkan.
Tiba-tiba sebelum ujian dimulai kepala sekolah yang tampak
kebingungan dicampur sedikit memaksakan senyuman mencoba mencari Sherly.
Aneh. Apalagi hanya beberapa saat sebelum ujian praktik dimulai. Sungguh
aneh. Kecurigaanku bertambah ketika Sherly menangis setelah bertemu dengan
kepala sekolah. Sontak dia langsung berlari belakang sekolah. Yang kutahu pasti
dia ingin menenangkan diri jika ke sana.
Spontan aku mengejarnya. Akhirnya aku berhasil menemukannya. Aku terdiam begitu
juga dengan Sherly. Lama kami membisu menunggu salah satu diantara kami
berkata. Perlahan Sherly mendekatiku. Sangat dekat. Lalu Sherly mendekapku
tanpa suara. Perlahan terdengar suara tangis yang aku tahu sedari tadi dia
tahan. Kubisa memahami begitu sedihnya Sherly saat ini.
“Sherr... ada apa?” pelan aku berkata.
“Papa!! Raja Axelsen memberikan hukuman mati kepada papaku. Sebagai bentuk
peringatan agar tidak menentang Raja Axelsen.” jawab Sherly sambil menangis
sejadinya.
Terdiam kembali. Mungkin apapun yang aku katakan akan percuma. Setelah
kehilangan ibunya ketika berusia empat tahun, sekarang dia harus kehilangan
papanya. Kekejaman Raja Axelsen sudah tidak bisa dimaafkan. Untuk kesekian kalinya aku
bersumpah untuk melenyapkan Raja Axelsen beserta kediktaktorannya. Secepatnya
harus kulaksanakan aksiku.
“Ikutlah bersama pasukanku! Bersama kita menghancurkan Raja Axelsen dan
menghentikan korban berjatuhan lagi. Bisa jadi orang yang kita sayangi akan
menghilang lagi.” ajakku kepada Sherly.
Mungkin dengan mengajak Sherly ke medan pertempuran akan membahayakan
nyawanya. Orang yang aku sayangi. Tapi aku tidak bisa membiarkan Sherly cuma
menangis meratapi nasibnya.
25 September 1887
Kali ini aku akan penjadi
komandan dan otak serangan. Butuh waktu sekitar satu hari untuk memelajari peta
tata letak Kerajaan Bristons. Kalkulasi, perencanaan, strategi, kekuatan
pertahanan, formasi, manuver dan mobilitas sudah kupersiapkan untuk menyerang.
Tidak ada yang terlewatkan sedikitpun. Setidaknya ini sudah kupikirkan
matang-matang. Untuk berjaga-jaga telah kusiapkan rencana cadangan untuk
memastikan kemenanganku. Tapi masih ada kebimbangan. Apakah hal yang aku
lakukan benar? Bukankah membunuh adalah hal yang keji? Tidak. Aku sudah
memutuskannya. Akan kukotori tanganku untuk menghentikan kediktatoran ini. Sudah
kuputuskan serangan akan kulaksanakan dua jam lagi. Aku takut strategiku akan
dipatahkan. Tidak. Aku tidak boleh gagal.
Seperti biasa istana
kerajaan akan menjadi pusat kekuatan musuh. Aku membagi pasukan Kerajaan Pict
menjadi tiga bagian. Pasukan pertama akan langsung menyerang Krajaan Bristons
bagian utara. Pasukan kedua akan menyerang lewat jalur laut di bagian Kerajaan Bristons
bagian selatan. Pasukan terakhir akan berjaga-jaga di daerah perbatasan
Kerajaan Scots.
“Cek-cek komandan semua pasukan
siap di posisi!”
“Mulai beroperasi! Hancurkan semua musuh yang ada di depan kalian!”
Penyerangan dua sisi akan membagi
kekuatan militer musuh menjadi dua. Kemudian pasukan ketiga untuk
mengantisipasi bantuan dari Kerajaan Scots. Sejauh ini sesuai prediksiku. Tapi
aku masih menganalisa pergerakan musuh.
“Komandan pasukan musuh terpusat di sisi utara dan
selatan.”
“Baik. Hati-hati! Jangan anggap remeh para prajurit
Kerajaan Bristons.”
“Disini pemimpin pasukan satu berhasil menembus pertahanan lawan.”
“Disini pemimimpin pasukan dua. Kami tidak bisa bertahan lagi! Ada—”
“Ada apa! Kenapa komunikasimu terputus!”
“Ini pasukan dua. Pemimpin kami telah terbunuh. Kami mengonfirmasi jumlah
musuh meningkat dengan pesat!”
Kukira pasukan bantuan musuh akan tiba satu jam lagi. Terlalu cepat. Apakah
taktikku terbaca oleh musuh? Mereka tidak mungkin bisa bertahan. Apakah harus
kuperintahkan mereka untuk mundur? Tidak. Aku sudah sampai sejauh ini dan operasi
kali ini tidak boleh gagal. Mau tidak mau harus kukorbankan pasukanku.
“Komandan! Jumlah
musuh terlalu banyak. Haruskah kami mundur?”
“Tidak. Kalian harus menjaga formasi kalian. Maafkan aku. Aku harus
mengorbankan beberapa pasukanku.”
“Tidak. Komandan tidak perlu meminta maaf. Yang utama dari operasi ini
adalah kemenangan.”
“Komandan di sini pasukan satu. Kami telah masuk lima ratus meter ke dalam
pertahanan lawan. Tapi muncul lawan baru dan mereka memakai atribute prajurit Kerajaan Scots.”
“Apa!! Tidak mungkin!”
Jika pasukukan Kerajaan Scots datang membantu harus melewati rute yang
telah kuprediksikan. Dimana sebagian pasukanku sudah bersiap untuk menghadang.
Atau dari awal strategiku sudah terbaca. Pasukan Scots dari awal pertempuran
sudah ada di area Kerajaan Bristons. Sial. Kenapa ini bisa terjadi. BODOH.
Dalam keadaan seperti ini aku harus mengeluarkan rencana cadangan.
“Pasukan bayangan apa kalian bisa mendengarku? Disini
komandan.”
“Kami siap di posisi sedang mengintai musuh. Kami sudah membagi pasukan di
area Bristons bagian utara dan selatan.”
“Bagus. Ini adalah kemenangan kita. Mulai operasi
bayangan!!”
Dengan datangnya pasukan bantuan musuh dengan cepat, berarti ini adalah
kemenanganku. Selain memiliki pasukan dari Scots aku juga memunyai dukungan
dari pasukan musuh. Ya. Aku menempatkan pasukan Bristons yang menentang Raja Axelsen tepat di belakang pasukan bantuan musuh. Dengan ini kami mengepung pasukan musuh dari dua sisi. Kemudian
pertahanan daerah istana akan melemah dan bantuan tidak akan sampai tepat
waktu.
“Pasukan bayangan laporkan kondisimu!”
“Sesuai yang komandan perintahkan. Kami menyerang musuh
dari belakang.”
“Bagus tetap jaga formasimu. Musuh akan kebingungan.”
“Komandan memang hebat, wajar orang-orang menyebut Anda master of strategy. Tapi kami tidak bisa
bertahan lama. Pasukan musuh terlalu kuat.”
“Kalian cuma harus mengulur waktu. Sisanya aku dan Sherly yang akan
menyelesaikan. Tetap analisa keadaan!”
Siapa sangka kalau komandan pasukan memberi komando dari pusat pertahanan
musuh.
Ya, sejak awal aku dan Sherly berada di istana Raja Axelsen. Masih menganalisa. Seperti dugaan pertahanan melemah sampai lima
puluh persen. Dengan ini aku sudah melakukan checkmate pada musuh. Apalagi ada Sherly di sampingku. Aku tidak
mungkin kalah.
“Sherly kau siap? Jatuhkan musuh di depan istana dengan
senapanmu.”
“Kapanpun aku siap Andri!”
Tak ada satu pun tembakan dari Sherly yang meleset. Setelah
melumpuhkan penjaga kami mulai menyusuri singgasananya. Terlalu sepi. Tak berpenghuni. Apakah ini jebakan?
Atau mungkin mereka sudah tahu aku akan ke sini. Tidak. Tak ada siapapun
yang mengetahui keberadaanku. Tiba-tiba saja,
bulu kudukku berdiri.
Entah apa yang sedang terjadi. Dan ketika aku memutar kepalaku, tiba-tiba Raja Axelsen berdiri di belakangku bersiap menembakku dengan
pistol. Bodoh. Kenapa aku bisa seceroboh ini? Sungguh ceroboh. Apa aku akan
mati sia-sia? Apakah pengorbanan pasukanku akan sia-sia? Tapi tiba-tiba Sherly menggunakan
tubuhnya sebagai perisai dan mendekapku. Apa yang terjadi? Dia seharusnya tetap
mengikuti perintahku berjaga di pintu.
“Sherly!! Sherly!! Jangan tutup matamu! Tetaplah bersamaku! Tak seharusnya Kau
menjadi korban!”
“Tidak Andri. Kau tidak boleh mati. Bagaimanapun juga Kau adalah komandan. Gunakan senapanku dan bunuh Raja Axelsen.”
Perlahan detak jantung Sherly mulai melemah. Hangat tubuhnya yang mendekapku mulai menghilang. Dingin.
Suaranya sudah tak terdengar lagi. Terdiam. Sejenak aku terdiam dan mencoba
mencerna apa yang sedang terjadi. Ini adalah kenyataan. Sherly sudah mati.
Sedangkan Raja Axelsen sedang tertawa di depanku dengan pistol di tangannya. Sudah
waktunya.
Tak kan ku tahan diriku lagi. Kemudian aku berdiri
dan memegang senapan yang diberikan sherly.
“Menyedihkan!! Hahaha... sungguh menyedihkan! Kau mati menyusul ayahmu.
Sama seperti ayahmu, tak berguna!”
“Selamat
Raja Axelsen! Kau telah membuatku sangat marah!!”
Seketika Raja
Axelsen bertubi-tubi melepaskan tembakan ke arahku.
Spontan aku mulai menghindar dari tembakan itu. Seakan aku bisa memprediksi arah
peluru yang dia tembakkan. Satu dua peluru mendarat di pahaku. Belum. Aku belum
tumbang. Aku masih bisa bergerak. Dalam kondisi ini aku tidak boleh gegabah.
Tetap waspada. Kugunakan seluruh tubuhku untuk bertarung.
“Monster! Siapa kau ini sebenarnya??” teriak Raja Axelsen.
“Apapun kan ku lakukan untuk membunuhmu. Menjadi monster aku tidak peduli.
Selagi aku melindungi orang yang aku sayangi!” jawabku tanpa ekspresi.
Sekejap aku berada di depan Raja Axelsen. Kutembak kedua kakinya untuk melumpuhkannya. Seketika tumbang.
Kemudian tanpa ragu kutembak lengannya. Berkali-kali tanpa kasihan. Sudah
kuputuskan untuk mengotori tanganku sendiri. Kemudian kuarahkan senapanku ke
arah kepalanya.
“Identitasku yang sebenarnya adalah Ariclus Fowler? Apa
kau tidak ingat?”
“Ariclus Fowler? Siapa Kau? Tunggu dulu. Fowler!!”
“Ya. Aku adalah anak dari Edberd Fowler. Salah satu
menteri dan ahli strategi terhebat yang Kau hianati. Ariclus Fowler siap
melayanimu. Atau lebih tepatnya melenyapkanmu!”
“Ariclus?! Tapi aku pikir—”
“Kalau aku sudah mati? Kau membunuh kedua orang tuaku tapi aku berhasil
lolos. Setelah kejadian itu, aku mengganti identitasku.”
***
Aku
mulai menarik udara masuk dan keluar paru-paruku. Aku tak tahu mengapa.
Jantungku tiba-tiba saja berdetak lebih kencang. Keringatku sudah jatuh dan
membasahi semua tempat di sekitarku. Aku
tak tahu apa yang sudah terjadi. Aku merasa hanya mengalir. Semua terjadi
begitu cepat di bawah gelombang delta yang menghantuiku. Tegang. Aku seperti
ditarik kembali dengan portal time
machine. Catur. Tembakan. Gadis.
Raja. Academy. Strategi. Semuanya
musnah saat aku membuka mata. Ya. Semua itu hanya imajinasi belaka yang muncul
dalam alam bawah sadarku. Mimpi. Semua berlalu begitu saja dan HILANG.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar